Ditengah arus globalisasi modern gaya hidup manusia tak dapat dipungkiri ikut terseret arus. Di Indonesia misalnya, Mulai dari budaya hingga moral (karakter) tak luput tergerus, bahkan gaya pendidikan pun berulang kali harus berubah. dahulu, meskipun kebanyakan tak bebas mengenyam pendidikan yang tinggi, tapi orang-orang Tua kita sangat santun dan berjiwa sosial tinggi, bersungguh-sungguj dan memiliki semangat yang sangat tinggi dalam mengerjakan sesuatu.
Dibandingkan kehidupan saat ini, banyak manusia yang terbuai dan ternina bobokan oleh kecanggihan tekhnologi, contohnya para generasi yang tengah bersiap menjadi pelanjut terutama pelajar. Tak dipungkiri bahwa bangsa ini mengalami degradasi moral akut, sebutlah indikatornya antara lain pergaulan yang tidak sehat, berdasarkan beberapa penelitian bahwa dari 7 dari 10 pelajar tidak lagi perawan, sikap sopan santun baik itu kepada yang lebih tua, teman sebaya maupun lingkungan sekitar yang hampir hilang, begitu pula kepedulian sosialnya yang sangat minim.
Kondisi ini jika tidak diimbangi dengan upaya maksimal untuk mengembalikan atau membngun kembali karakter anak bangsa yang semestinya, maka bisa dipastikan keadaan kedepan akan semakin memburuk.
Apresiasi besar harus diberikan kepada aparatur pmerintahan khususnya bidang pendidikan yang telah berusaha mencari dan membuat kurikulum pendidikan yang tepat dengan memasukkan pendidikan karakter dalam setiap pembelajaran. Akan tetapi, dalam proses pelaksanaan lagi-lagi perlu mendapat perhatian khusus sebab ternyata degradasi nilai bukn hanya terjadi pada pelajar tetapi juga banyak tenaga pendidik yang harusnya menjadi tumpuan harapan.
Banyak guru yang dalam pelaksanaan kurikulum ini hanya serampangan dalam mengaplikasikannya.
Pendidikan karakter, tidak akan lahir jika hanya tersusun dalam deretan teori dan konsep. Pendidikan karakter mesti menstimulus para pelajar untuk mengaplikasikan nilai-nilai yanh dimaksud.
Aksi yang dilakukan Lazismu Kota Parepare misalnya, yang dalam rangka menyukseskan aksi berbagi untuk sesamanya melibatkan para generasi muda lewat program filantropis muda. Filantropis muda ini adalah bagaimana mengajarkan anak-anak bangsa untuk membiasakan berderma dan melakukan hal yang baik dan membantu orang sekitarnya yang membutuhkan dimulai dari hal yang mungkin dianggap kecil. Dengan begitu virus apatisme dapat dihilangkan.
Dalam program ini, lazismu parepare membagikan celengan kepada para generasi muda dari tingkat TK hingga bangku perkuliahan. Celengan ini akan mereka isi dengan recehan yang mungkin selama ini mereka anggap sedikit. Semua hasil celengan akan dikumpulkan setelah sebuln kemudian dan donasi yang terkumpul tersebut akan digunakan untuk paket pendidikan anak yatim dan dhuafa.

