"Hukum besi sebuah perubahan menunjukkan tidak ada bangsa yang kembali ke masa lampau, selalu bergerak ke masa depan. Kehidupan modern dengan corak modern-industri merupakan keniscayaan dalam peradaban bangsa-bangsa saat ini dan ke depan. persoalannya ada bangsa yang larut dalam modernitas itu, menjadi objek, dan menjadi korban kemoderenan, Ada bangsa-bangsa yang menjadi pelaku perubahan dan menjadi kekuatan hegemoni atau penguasa di atas gerak laju modernitas, serta menjadikan modernitas sebagai panglima karena merasa sebagai bagian dari anak kandung yang sah dari peradabannya, Ada pula yang mengambil jarak, melakukan seleksi, dan kemudian menampilkan alternatif dari modernitas yang niscaya itu. semua berpeluang pada kemampuan dan alam pikiran bangsa-bangsa itu dalam menghadapi kehidupan pasca-modern yang kompleks itu" ~DR. Haedar Nasir *Buku:Muhammadiyah Abad Kedua
Pernyataan diatas memang benar, masa lalu mustahil untuk kembali namun adalah sebuah keniscayaan akan hadir dalam kemasan yang baru dan lebih terorganisir. Dari situasional kebangsaan kita ditengah arus globalisasi hari ini mestinya membuat kita lebih banyak belajar lagi, lebih peka terhadap kenikmatan-kenikmatan yang menggiurkan dari era modernitas, mengamunisi diri lewat membaca buku dan tanda-tanda agar kita mampu bergerak, menggalang kekuatan dan melawan. Dari buku yang saya baca, saya menarik kesimpulan bahwa era post-modernisme telah bergerak menghampiri dan menyorot Indonesia, harusnya kita
mampu menjadi negara yang mengambil jarak, menyeleksi dan mengambil alternatif lain bukan justru ikut andil dalam menjadikan bangsa ini sebagai korban.!
"Globalisasi bukan sekedar proses ekonomi tetapi sekaligus politik dan budaya yang membawa kekuatan neoliberalisme yang mendunia, yang masuk dalam ke seluruh relung kehidupan hingga ke pelosok-pelosok pedalam di seluruh dunia. karena itu globalisasi tidaklah netral, selalu membawa muatan-muatan kepentingan, ekonomi politik, budaya, bahkan ideologi tertentu yakni Kapitalisme dan Neoliberalisme yang kian meraksasa"
Lagi-lagi bahwa pernyataan di atas memang cocok untuk menggambarkan kondisi bangsa kita hari ini, pernyataan DR. Haedar Nasir itu juga diamini oleh realitas dan salah satu ormas/organisasi Islam yang aktif melakukan kritik terhadap situasi kebangsaan menuangkannya dalam tulisan lewat tabloidnya, antara opini dan fakta semoga kita bisa menilai dengan mata hati, berikut ulasan berita dari tabloid tersebut yang saya tulis ulang:
OLEH-OLEH DARI G-20, REZIM LIBERAL JOKOWI NAIKKAN BBM
Seperti yang di janjikan sebelumnya, sepulang dari pertemuan
puncak di G 20, rezim Jokowi akhirnya
menaikkan harga BBM. Inilah oleh-oleh bagi rakyat Indonesia dari
presiden Jokowi, setelah keliling dari berbagai pertemuan klub-klub kkapitalis
dunia, mulai dari APEC di Tiongkok hingga G-20 di Australia. Presiden Jokowi
mengumumkan kenaikan BBMpada Senin (17/11) malam, dengan harga yang sama persis
dengan angka yang di ajukan oleh Bank Dunia, Rp. 8.500 per Liter untuk premium
dan solar Rp. 7.500 per liter.
Sebelumnya, Jokowi di hadapan Tuan-tuan besar kapitalis
dunia, telah membulatkan tekadnya untuk menaikkan harga BBM dengan bahasa tipuan
mengalihkan subsidi. Di hadapan parapemimpin G-20 dan pertemuan ppunak ke-9 KTT
G-20 Brisbane, Australia pada sabtu,15 November 2014, Jokowi menegaskan akan
mengurangu subsidi BBM yang artinya menaikkan harga BBM.
Pidato Jokowi di hadapan pemimoin G-20 bisa ditangkap
sebagai laporan pekerja kepada tuannya. Jokowi ingin menunjukkan perintah
negara-negara imperialis selama ini agar Indonesia mengurangi subsidi energi,
benar-benar akan dilaksanakan. Hal ini sekaligus mengokohkan bahwa rezim Jokowi
melanjutkan kebijakan rezim neoliberal sebelumnya yang tunduk kepada Barat dan
bekerja untuk melayani kepentingan
negara-negara penjajah.
Kita tahu bahwa mengurangi subsisdi BBM itu artinya
menaikkan harga BBM, memang menunjukkan perintah dari tuan-tuan besar negara
imperialis. Salah satu keputusan penting dalam pertemuan yang berlangsung di Pitsburgh,
Amerika Serikat pada September 2009 adalah kesepakatan seluruh anggota G-20
untuk mengurangi subsidi BBm secara bertahap.
Rezim liberal Jokowi ini pun tampaknya tidak takut dengan do’a
khusus Rasulullah SAW terhadap para penguasa yang menyengsarakan rakyat, “ Ya
Allah siapa saja yang mengatur suatu urusan UmatKu, lalu dia menyusahkan
mereka, maka susahkanlah dia, dan siapa saja yang mengatur urusan suatu UmatKu,
lalu dia berlaku baik kepada mereka, maka perlakukanlah dia dengan baik.” (HR.
Ahmad dan Muslim)
Kita perlu menegaskan, perintah untuk menaikkan harga BBm
dengan tipuan mengalihkan subsidi BBM, merupakan proyek utama lembaga-lembaga
liberal dunia. Jauh sebelum pemilu, ekonom utama perwakilan Bank Dunia di
Jakarta JIM BRUMBY pada selasa (18/3) sudah memberikan ‘warning’, siapapun
presiden baru, Indonesia diminta untuk menaikkan harga BBM subisidi menjadi Rp.
8.500,/ liter.
Mempertahankan keanggotaan Indonesia dalam G-20 sendiri
membuktikan bahwa rezim Jokowi tak lebih dari kelanjutan rezim neoliberal
sebelumnya, mengingat G-20 merupakan alat penjajahan Barat untuk menyelamatkan
krisis ekonomi negara-negara barat. Darisegi sejarah, kelahiran G-20 tidak
lepas dari krisis 2008 yang dialami negara-negara maju yang tergabung dalam
G-8. Untuk mengatasi krisis tersebu, mereka perlu keikutsertaan negara-negara
berkembang.
Tujuannya tidak lain untuk memperluas pasar bagi produk
barang dan jasa negara imperialis tersebut. Mendapatkan bahan mentah dan sumber energi murah dengan tenaga kerja
murah serta suntikan modal. Karena pusat krisis itu ada di sektor kauangan,
maka negara maju dalam G-20 memiliki fokus untuk memperkuat krisi ekonomi
mereka. Lewat G-20 direncanakan proyek-proyek untuk menguasai sumber-sumber
ekonomi dunia ketiga. Maka, bergabung dengan G-20 merupakan bunuh diri secara
ekonomi dan politik.,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
*Dua Paragrap Terakhir tidak tertulis
Di tulis ulang dari: Media Umat Edisi 139, 28 Muharram-11
Shafar 1436 H/ 21 November-4 Desember 2014.
Sungguh banyak tanda-tanda, yang semakin jelas seiring datangnya pagi,,,
KITA INI TELAH MERDEKA TAPI TERJAJAH,
MIRISNYA KITA TERJAJAH OLEH ANTEK ASING DAN DIBANTU OLEH
ORANG_ORANG KITA SENDIRI
HARUSKAH KITA DIAM DALAM KETERPURUKAN??

Tidak ada komentar:
Posting Komentar