Rabu, 20 Mei 2015

HARI KEBANGKITAN 20 MEI

Hari Kebangkitan yang jatuh pada tanggal 20 Mei merupakan momentum yang tepat 
untuk menyuarakan aspirasi dan kritik terhadap kondisi kebangsaan 
terutama mengkritik langkah dan kebijakan-kebijakan kontradiktif 
yang diambil oleh Pemerintahan Jokowi-JK.
Banyak masyarakat yang gerah terhadap ulah Wong Cilik yang nampaknya 
memang prematur untuk lahir sebagai Kepala Negara, Kekacauan demi kekacauan 
beruntun menghantam negeri ini baik dari segi Ekonomi, Sosial, dan Perpolitikan 
belum lagi kata-kata yang sering di lontarkan yang membuat banyak orang merasa ‘gemas’ terhadapnya. “Saya tidak tahu”, “Bukan Urusan Saya” dsbx....

Jika kita merefleksikan
kembali janji-janji 
yang dengan bangganya diucapkan saat pilpres lalu, 
Menghitung kembali jarak langkah blusukannya 
sungguh semua bertolak belakang dengan realitas yang ada. 
Katanya Wong Cilik yang akan berpihak pada rakyat kecil, 
mensejahterhakn rakyat, mengembangkan ekonomi kreatif Dan mandiri, 
memberantas korupsi serta mengelola sendiri hasil bumi pertiwi. 
Lalu apa yang terjadi? Nyatanya kebijakan-kebijakan yang diambil 
selalu menguntungkan kaum bermodal, 
memanfaatkan isu pimpinan polri yang menarik perhatian rakyat 
lalu dibelakang dengan tenang melakukan perpanjangan kontrak izin ekspor 
PT. Newmont Nusa Tenggara, dan PT Freeport. Bertentangan dengan UUD 45 pasal 33. Serta Undang-undang no 4 tahun 2009 tentang pertambangan mineral dan batubara (MINERBA), yang menyatakan bahwa setiap pemegang kontak karya wajib melakukan pemurnian di dalam negeri, atau membangun smelter dalam jangka waktu lima tahun sejak UU tersebut disahkan. Namun, Izin ekspor tetap diperpanjang. Jokowi melanggar dan menginjak konstitusi.
Keseriusan dalam memberantas korupsi hanya omong kosong belaka, 
ditengah semangatnya rakyat memberikan dukungan kepada KPK 
mengusut kasus-kasus korupsi, si Wong Cilik ini justru mengobrak abrik 
lembaga yang menjadi harapan rakyat. Isu-isu yang menyertai semakin diperkuat 
bahwa Presiden kali ini tak mampu mengambil keputusan secara rasional dan profesional sebab selalu berada dalam tendensi parpol. Tentang ekonomi, Ada apa dengan rupiah? 
Nilainya kian merosot dan terus melemah. 
Belum lagi mobil ESEMKA yang dulunya dia banggakan, tapi justru malah memilih menggunakan mobil buatan luar negeri sebagai mobil dinas para pejabatnya, 
masih banyak hal yang jika kita ingin membukanya satu persatu 
maka akan memperjelas aib kepemimpinannya dan semakin meyakinkan
 jika menghentikan rezim Jokowi-Jk adalah langkah yang tepat.

Melalui momentum Hari Kebangkitan ini, 
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah di seluruh Indonesia serentak melakukan aksi 
lewat komando PP IMM dengan mengambil tema 
“LURUSKAN KIBLAT BANGSA”, dengan tuntutan
1. Wujudkan Agenda Trisakti, Ekonomi Berdikari, Indonesia Mandiri
2. Revisi UU yang berbau Liberal, Turunan dari UUD 1945
3. Hentikan Rezim Jokowi-JK, Rezim Pencitraan, Penindas Rakyat



sebab Rezim Jokowi-JK dianggap menindas dan mengkhianati rakyat. 
Kepemimpinan yang mestinya diarahkan pada kiblat bangsa yakni: 
Kiblat pada Nilai ketuhanan, Nilai kemanusiaan, kesejahteraan dan
 kemakmuran rakyat dan negeri ini,
 Bukan berkiblat pada elit politik, koorporat lalu menjadi Negara Neo-Imperialis 
seperti kiblat kebijakan rezim Jokowi-JK saat ini.

PC IMM Kota Parepare tentu tak ketinggalan untuk membuat momentum 
kebangkitan ini menjadi bermakna. Puluhan kader turut dalam euforia kebangkitan, 
menantang terik meneriakkan keadilan untuk rakyat. 
Meski aksi ini sempat diwarnai bentrok kecil antara massa aksi 
dengan kepolisian namun massa aksi tak sedikitpun merasa gentar. 
Aksi ini ditutup dengan berjalan mundur sebagai simbol kemunduran
kepemimpinan dan ketidakberpihakan pada kaum proletar dibawah rezim Jokowi-JK.
Meski hari Peringatan Kebangkitan Nasional telah berlalu, 
namun bukan berarti teriakan-teriakan kepada penguasa imperialistis akan terhenti.
Perjuangan dan teriakan mahasiswa akan terus menggaung 
memekakkan telinga para penguasa serakah dan pengkhianat.

#NhiarAzzahra
#20Mei2015 [22.15]

Tidak ada komentar: