Selasa, 05 Januari 2016

Cukup Cintai dalam Diam



 “Doooorrrrrr…..” sepasang tangan mendorong bahu aku dari belakang dengan sedikit keras.Aku berbalik mencari tahu siapa pemilik tangan jail itu,ternyata Fatimah sahabatku. “aduhhh imahh,,bikin kaget aja.nihhh bahu sakit tauuu” Aku cemberut sambil meringis. “ iih non Zahra,abisnya aku gemes liatin kamu dari jauh asyik senyam-senyum sendiri, kalau bahagia yah dibagi dongk dengan sahabat “ Fatimah mecubit kedua pipiku.” Auwww lepasin …gak kenapa-kenapa kok”. “ahh,cerita gak? Klo nggak mau cerita yah udah.gak bakalan ku lepasin” imah tertawa penuh kemenangan, dia tahu kalau aku sedang bahagia.fatimah bisa membaca apa yang aku rasakan.“iya deh,aku cerita! Tapi cepetan lepasin tuhhh,keburu merah tuh pipi aku”. Fatimah pun melepaskan cubitannya. Aku mengelus-elus pipiku yang memerah,lalu menyikut lengan Fatimah yang sibuk cengengesan. “jahat bangett sih,,” . “udah deh,cepetan cerita.aku penasaran nihh.kamu pasti lagi bahagia kan,kan,kan,”.“nah tuh kamu tau” Aku kembali senyum-senyum sendiri. “iyya,tapi bahagia kenapa sih? Pasti dibeliin laptop baru? BB baru? Atau jangan-jangan dibeliin mobil nih sama parent?” Fatimah antusias. “ wah sotoy kamu imah,bukan itu”. “lalu apa dongk?”. Aku berdiri dan menghadap ke Fatimah lalu mendekatkan bibirnya ke telinga sahabatku itu “aku ketemu malaikat…” bisikku pelan lalu tersenyum. “What?? Jangan bilang kamu jatuh cinta,Ra?” Fatimah syok. “bukannya kamu pernah bilang kalau udah kapok tuh percaya ama laki-laki yang kerjaannya Cuma nyakitin hati. Sadar,Ra,, 2 tahun kamu melawan sakit hatimu setelah putus dari iful,,,jangan ngulang lagi dongk..” Fatimah  menarik pergelanganku. “ duh,imah sayang.. malaikat yang satu ini beda,dia taat ibadah loh,sepertinya anak sholeh,beda banget sama iful. Kok aku yakin yah kalo dia ini bakal jadi yang terakhir”.Aku mencoba meyakinkan
sahabatku,sahabat yang menjadi tempat bersandarku ketika ada masalah,terlebih ketika 2 tahun lalu aku putus dari pacarku,iful. Dialah yang membantuku untuk melupakan kejadian itu.ya, 2 tahun bukan waktu yang singkat. Dari pengalaman pahit itu juga, Aku pernah berjanji kepada Fatimah untuk tak lagi menjalani yang namanya pacaran, “langsung nikah aja” ucapku waktu itu. Aku maklum jika Fatimah tiba-tiba syok ketika aku menyampaikan hal ini padanya, Aku tahu kalu Fatimah amat sayang padaku,kami sudah seperti saudara yang lahir dari rahim yang sama. Fatimah saat kelas 2 SMA, pernah menjalin hubungan. Namun juga kecewa,dan pada saat itu hingga saat ini semester 6 bangku kuliah ,tak ingin lagi pacaran. Dia juga lebih tawaddu dari Aku. “memangnya siapa sih?” Fatimah agak penasaran. “Nouval,im…”. Fatimah menutup mulutnya yang membulat “ hah? Si Nouval yang aktivis terkenal dikampus kita ini?”. “iyyaa….” Aku berharap setelah mengetahui orangnya sahabtku ini mau mendukungku.tapi sikapnya justru terbalik dari harapanku. “ huh,terserah kamu saja sih,Ra. Aku Cuma peringatin kalau kamu jangan ngadu-ngadu kalau kecewa lagi.orang yang cakep kayak dia banyak yang ngelirik loh,,,jangan terkecoh,Ra.!” Ancam Fatimah padaku. Fatimah hendak meninggalkanku,tapi keburu aku menahannya. “ duhh tunggu dulu dongk,imah. Tap dia kan rajin sholat,,trus dia juga buktiin ke aku kalau dia beneran cinta sama aku. Dia jarang suka loh sama cewek.” . “Dia serius? Kalo orang serius tuh,suruh langsung lama raja..” Fatimah pun nyelonong pergi. aku memutuskan untuk tidak menyusulnya. Aku tahu kalau sahabatku itu lagi gak bisa diajak kompromi saat ini. Hingga kuputuskan untuk menuju kantin,dimana aku berjanji untuk ketemu dengan seseorang,dengan Nouval tentunya!.
            3 bulan hubunganku dengan Nouval berjalan dengan baik, namun begitu memasuki bulan keempat, aku merasa kerenggangan hubunganku telah Nampak. Nouval yang dulunya selalu nelpon,sms, dan sangat perhatian kepadaku mulai berubah. Setiap aku sms, jawabnya hanya sepatah dua kata saja, itupun aku yang selalu memulai untuk sms atau nelpon dia. Di kampus pun aku sering cemburu karena kedekatannya dengan teman-teman cewek dari fakultas lain,maklum tuntutan profesinya sebagai aktivis. Namun, aku merasa kedekatannya dengan Sivia, mahasiswi kedokteran kampusku sudah tidak wajar. Aku merasa bahwa dia lebih care ke Sivia ketimbang aku. Di dunia maya, Facebook dan Twitter, Nouval lebih rajin comment atau mention si Sivia daripada aku. Pernah juga suatu waktu,aku membuka akun Nouval dan aku cek chat roomnya,ternyata beneran nggak wajar kedekatan mereka. Pada suatu saat,kucoba minta kejelasan kepada Nouval. “ Val, kamu tuh udah berubah tau nggak” kataku ketus. “berubah kenapa sih,Ra.perasaan aku masih begini aja”. “kamu suka kan sama Sivia?kamu tuh lebih dekat,lebih care sama dia ketimbang aku!”. “ Ya Ampun, Ra. kamu tuh terlalu berlebihan. Kita kan mesti menjaga ukhuwah dengan siapa saja. Sivia itu kan teman seorganisasi aku,kamu tidak usah merisaukan hal yang tak perlu dirisaukanlah..fokuslah untuk perbaikan diri” ucap Nouval enteng. “tak perlu merisaukan?baiklah,,,,aku mencintaimu,Val. Aku percaya padamu.tapi tolong jangan terlalu over sama Sivia! Tapi beneran kan kamu nggak ada apa-apa dengan Sivia?.Aku menatap mata Nouval. Nouval hanya tersenyum,juga menatap mataku. Aku tak sanggup menatapnya lama,aku takut tak mampu melepaskan pandanganku,hingga kusudahi pertemuanku hari itu. Meski masih dibayangi ketakutan dan kecemburuan,tapi setidaknya kata-kata Nouval agar aku tidak mencemaskan hal itu membuatku sedikit lega.Setelah pertemuan ini, aku berharap realitas yang mencemaskan yang kulihat selama ini takkan kutemui lagi.Aku pun kembali ke kelas,menemui sahabatku ,Fatimah. Aku menghampirinya seolah tak terjadi apa-apa. Kecemasan yang selama ini menghantuiku,tersimpan rapi. Aku tak ingin Fatimah mengetahuinya, ada sedikit perasaan malu jika dia tahu.
            Disuatu pagi…. “ehm…kenapa sih Ra,kayaknya akhir-akhir ini kamu menyendiri mulu deh” Fatimah membuyarkan lamunanku. Aku buru-buru menghapus butiran air mataku. “eh,kamu nangis?ayo,katakan ada apa?” Fatimah menatap mataku tajam,mencoba memastikan bahwa baru saja aku menangis. Begitu bola mataku menangkap bola mata Fatimah, air mataku pun tumpah tak tertahankan. “aduuh,,Ra.udah dongk,malu diliatin orang banyak.” Fatimah memelukku erat lalu menuntunku ketempat sepi.Di pojok kantin!. “maafin aku,imah.” “Maafin apa nih?” Fatimah heran. “seandainya dulu aku mendengarka kata-katamu,seandainya dulu aku konsisten dengan janjiku untuk tidak pacaran…”. “Kamu putus lagi?” Fatimah memotong pembicaraanku. “kami belum putus.hanya saja aku kecewa dengan sikap Nouval yang sudah berubah.Dia bukan Nouval yang ku kenal Dulu…sepertinya dia tak peduli lagi denganku.TAK PEDULI,Mah!” aku pun menangis sejadi-jadinya. “dia menyangkal kedekatannya denga Sivia,tapi kenyataannya sepertinya dia memberi harapan pada cewek itu. Sebaliknya Sivia juga suka pad Nouval.Mereka lebih dekat.Mah..” aku memeluk Fatimah. Fatimah tak berucap,dia hanya sibuk mendengarkan tuturanku.Hingga semua perasaanku telah aku luahkan,lalu aku hanya terdiam. “ sudahlah,Ra. tak usah berandai-andai.toh semua sudah terjadi.” Fatimah mulai membesarkan hatiku. “jangan mudah tertipu dengan penampilan luar,Ra. Ketika kita merasa mencintai seseorang, cukuplah kita mencintainya dalam diam. Dengan begitu, Galau bakalan terhindrakan”. Aku menarik diriku dan melepaskan pelukanku. Aku tersenyum pada Fatimah. “ Mencintai dengan Diam menghindarkan kegalauan?bagaimana mungkin ,Mah?bukannya sakit memendam perasaan itu?”. “ Ra, sebenarnya aku memiliki rahasia yang tak pernah aku cerita ke kamu, yah ini hanya rahasia hatiku. Tapi aku rasa ini waktu yang tepat untuk menceritakannya padamu,agar kamu bisa belajar dan tak lagi menelan sakit karena cinta.”Fatimah menarik nafas,aku hanya terdiam menunggu cerita yang akan mengalir dari bibirnya. “Ra, Tak ada yang salah ketika kita  memiliki perasaan cinta kepada lawan jenis.Cinta adalah adalah anugerah yang diberikan Allah, Cinta itu nikmat sekaligus petaka.Cinta menjadi nikmat saat kita mampu mengarahkannya ke hal-hal yang positif dan menjadikannya alat untuk mendekatkan diri kepada Allah,namun ia menjadi petaka ketika kita tak mampu mengendalikannya dan membuat kita lupa pada sayriat agama.” Fatimah kembali menghela nafas cukup lama. “hmm.hanya itu rahasia yang kau maksud,Mah?” tanyaku penasaran.Fatimah tersenyum. “Sebenarnya,aku jatuh cinta pada seseorang,Ra. Tapi aku berusaha agar rasa cintaku padanya tak Nampak. Aku  yakin jika memang Dia adalah jodohku,maka kami akan disatukan Allah lewat ikatan suci Pernikahan. Aku melewati hariku dengan perasaan itu yang terus tumbuh dan menyesakkan jiwaku. Aku selalu berdo’a pada Allah,agar aku diberi kesabaran menjaga Cinta yang ditipkan dihatiku,dan tak lupa pula aku meminta agar Dia adalah jodohku yang ditakdirkan oleh-Nya.aku menanggung rasa itu cukup lama,Ra.hingga suatu ketika aku mendengar kabar,bahwa laki-laki yang kucintai itu ternyata mencintai orang lain, orang yang ku cintai itu ternyata tak sebaik yang kuduga,hatiku tersayat oleh rasa kecewa.tapi kecewa itu tak Nampak,dan hanya aku dan Allah yang tahu. Saat aku kecewa,semua baik-baik saja seolah tak terjadi apa-apa. Ukhuwah kami pun masih tetap terjaga. Itu karena hanya aku yang memendam perasaanku,saat kecewa aku berbisik pada diriku ‘kenapa mesti kecewa,toh dia bukan pacar aku’,’kenapa mesti bersedih,toh semua ini membuka mataku jika memang dia tidak mencintai aku’,,aku biasa saja saat mengetahui kenyataan itu,Ra.Toh orang-orang juga tidak bakalan menjadikanku bahan perhatian karena kisah menyakitkan seperti ini,karena memang tak ada kisah yang Nampak.aku tak perlu malu pada orang-orang bahwa orang yang aku cintai mencintai orang lain.” “bener,Mah.aku pun tak menyangka jika ternyata kau mengalaminya.semua tertutup rapi.Tapi kalau boleh tahu,laki-laki itu siapa?”. “Dia adalah Nouval,Ra. dan aku mendengar  kalau dia mencintai wanita lain itu dari kamu,Ra.” Fatimah tersenyum padaku. Tak terasa butiran bening itu kembali mengalir dipipiku,aku tak kuasa berkata sepatahpun. Fatimah memelukku erat. “ udahlah,Ra. semoga ini yang terakhir kalinya galau menghampirimu.Esok, ketika kau kembali jatuh cinta pada seseorang, cukup cintai Dia dalam diam,dan berdoa kepada Allah,minta yang terbaik buat kalian. Sesungguhnya Jodoh itu telah di atur oleh-Nya dan kita dipertemukan_Nya pada waktu yang tepat.” Fatimah mengusap air mataku.Aku beruntung,Allah mengirimiku Sahabat sebijak dan sesabar Fatimah. Aku mengeratkan pelukku,rasa kecewa perlahan sirna,bayang-bayang Nouval terganti oleh sahabatku,Fatimah!

#Cerpen di Buat Juni 2013
dibuat untuk ikut sbuah ajang penulisan cerpen TIPS ANTI GALAU



Tidak ada komentar: